Kondisi Masyarakat Masa Penjajahan
Monopoli Perdagangan
Pada awal kedatangannya, bangsa-bangsa Barat diterima dengan baik oleh rakyat Indonesia. Hubungan perdagangan antara bangsa Indonesia dengan bangsa Barat berubah menjadi hubungan penguasaan atau penjajahan.
VOC terus berusaha memperoleh kekuasaan yang lebih dari sekedar jual beli. Itulah yang memicu kekecewaan, kebencian, dan perlawanan fisik.
Pada awalnya, VOC meminta keistimewaan hak-hak dagang. Akan tetapi, dalam perkembangannya menjadi penguasaan pasar (monopoli).
VOC menekan para raja untuk memberikan kebijakan perdagangan hanya dengan VOC. Akhirnya, VOC bukan hanya menguasai daerah perdagangan, tetapi juga menguasai politik atau pemerintahan.
Gubernur Jenderal Daendls yang memerintah tahun 1808-1811 melakukan berbagai kebijakan seperti pembangunan militer, jalan raya, perbaikan pemerintahan, dan perbaikan ekonomi.
Salah satu kebijakan yang terkenal dan buktinya dapat disaksikan hingga masa sekarang adalah pembangunan jalan Anyer-Panarukan (Jalan Raya Pos).
Jalan Raya Pos sangat penting bagi pemerintah kolonial. Jalan tersebut dibangun dengan tujuan utama untuk kepentingan militer pemerintah kolonial.
Dalam perkembangannya, jalan tersebut menjadi sarana transportasi pemerintahan dan mengangkut berbagai hasil bumi.
Pembangunan jalur Anyer-Panarukan tersebut dilakukan oleh tenaga manusia. Puluhan ribu penduduk dikerahkan untuk membangun jalan tersebut.
Rakyat Indonesia dipaksa Belanda untuk membangun jalan. Mereka tidak digaji dan tidak menerima makanan yang layak.
Akibatnya, ribuan penduduk meninggal, baik karena kelaparan maupun penyakit yang diderita. Pengerahan penduduk untuk mengerjalan berabgai proyek Belanda disebut kerja paksa atau kerja rodi.
Salah satu kebijakan yang terkenal dan buktinya dapat disaksikan hingga masa sekarang adalah pembangunan jalan Anyer-Panarukan (Jalan Raya Pos).
Jalan Raya Pos sangat penting bagi pemerintah kolonial. Jalan tersebut dibangun dengan tujuan utama untuk kepentingan militer pemerintah kolonial.
Dalam perkembangannya, jalan tersebut menjadi sarana transportasi pemerintahan dan mengangkut berbagai hasil bumi.
Pembangunan jalur Anyer-Panarukan tersebut dilakukan oleh tenaga manusia. Puluhan ribu penduduk dikerahkan untuk membangun jalan tersebut.
Rakyat Indonesia dipaksa Belanda untuk membangun jalan. Mereka tidak digaji dan tidak menerima makanan yang layak.
Akibatnya, ribuan penduduk meninggal, baik karena kelaparan maupun penyakit yang diderita. Pengerahan penduduk untuk mengerjalan berabgai proyek Belanda disebut kerja paksa atau kerja rodi.
Saat Inggris menguasai Indonesia, Gubernur Jenderal Lord Minto membagi daerah jajahan Hindia Belanda menjadi empat goverment, yakni Malaka, Sumatera, Jawa, dan Maluku.
Lord Minto selanjutnya menyerahkan tanggung jawab kekuasaan atas seluruh wilayah itu kepada Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.
Salah satu kebijakan terkenal pada masa Raffles adalah sewa tanah atau landrent-system atau landelijk stelsel. Sistem tersebut memiliki ketentuan, antara lain:
Lord Minto selanjutnya menyerahkan tanggung jawab kekuasaan atas seluruh wilayah itu kepada Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.
Salah satu kebijakan terkenal pada masa Raffles adalah sewa tanah atau landrent-system atau landelijk stelsel. Sistem tersebut memiliki ketentuan, antara lain:
- Petani harus menyewa tanah meskipun dia adalah pemilik tanah tersebut
- Harga sewa tanah tergantung kepada kondisi tanah
- Pembayaran sewa tanah dilakukan dengan uang tunai
- Bagi yang tidak memiliki tanah dikenakan pajak kepala
Pada tahun 1830, Johannes den Bosch menerapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel). Kebijakan ini diberlakukan karena Belanda menghadapi kesulitan keuangan akibat perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) dan Perang Belgia (1830-1831).
Ketentuan kebijakan tanam paksa yang diberikan pemerintah Hindia Belanda sangat memberatkan masyarakat Indonesia.
Apalagi, pelaksanaanya penuh dengan penyelewengan sehingga semakin menambah penderitaan rakyat Indonesia.
Banyak ketentuan yang dilanggar atau diselewengkan baik oleh pegawai Belanda maupun pribumi. Praktik-praktik penekanan dan pemaksaan terhadap rakayat tersebut antara lain sebagai berikut:
Ketentuan kebijakan tanam paksa yang diberikan pemerintah Hindia Belanda sangat memberatkan masyarakat Indonesia.
Apalagi, pelaksanaanya penuh dengan penyelewengan sehingga semakin menambah penderitaan rakyat Indonesia.
Banyak ketentuan yang dilanggar atau diselewengkan baik oleh pegawai Belanda maupun pribumi. Praktik-praktik penekanan dan pemaksaan terhadap rakayat tersebut antara lain sebagai berikut:
- Menurut ketentuan, tanah yang digunakan untuk tanaman wajib hanya 1/5 dari tanah yang dimiliki rakyat. Namun kenyataanya, selalu lebih bahkan sampai 1/2 bagian dari tanah yang dimiliki rakyat.
- Kelebihan hasil panen tanaman wajib tidak pernah dibayarkan
- Waktu untuk kerja wajib melebihi 66 hari, dan tanpa imbalan yang memadai
- Tanah yang digunakan untuk tanaman wajib tetap dikenakan pajak.
Konflik antara kerajaan di Indonesia dan persekutuan/kongsi dagang Barat terjadi sejak para kongsi dagang menunjukkan kecongkakannya. Sebagai contoh pada tahun 1529 terjadi perang antara Tidore dan Portugis.
Penyebab utamanya adalah Protugis menghalang-halangi perdagangan Belanda dengan Tidore. Protugis menembaki jung-jung (perahu) dari Banda yang akan membeli cengkih ke Tidore.
Tidore tidak terima dengan tindakan armada Portugis. Lalu melakukan perlawanan. Dalam perang tersebut, Portugis berhasil mengadu domba kerajaan Ternate dan Tidore.
Portugis mendapat dukungan dari Ternate dan Bacan. Akhirnya Portugis mendapat kemenangan.
Rakyat Maluku sadar bahwa Portugis hanya akan merusak perdamaian. Sultan Hairun berhasil menyatukan rakyat dan mengobarkan perlawanan pada tahun 1565.
Portugis terus terdesak oleh gempuran tentara kerajaan yang didukung rakyat. Portugis menawarkan perundingan kepada Sultan Hairun. Sultan Hairun adalah raja yang cinta damai sehingga menerima ajakan Portugis.
Pada tahun 1570, bertempat di Benteng Sao Paolo, terjadi perundingan antara Sultan dan Portugis.
Pada awal perundingan semua berjalan seperti sebuah pertemanan pada umumnya, yaitu membicarakan suatu hal penting. Pada saat itu, Sultan Hairun tidak menaruh curiga sedikit pun.
Ia merasa bahwa perdamaian jauh lebih baik. Namun, pada saat perundingan berlangsung tanpa disangka-sangka tiba-tiba Portugis menangkap Sultan Hairun dan pada saat itu juga membunuhnya.
Kelicikan dan kejahatan Portugis tersebut menimbulkan kemarahan rakyat Maluku. Sultan Baabullah (putera Sultan Hairun) dengan gagah melanjutkan perjuangan ayahandanya dengan memimpin perlawanan.
Pada saat bersamaan, Ternate dan Tidore bersatu melancarakan serangan terhadap Portugis. Akhirnya, pada tahun 1575 Portugis diusir dari Ternate.
Selanjutnya Portugis melarikan diri dan menetap di Ambon. Pada tahun 1605 Portugis berhasil diusir oleh VOC dari Ambon.
Portugis kemudian menyingkir ke Timor Timur/Timor Leste dan melakukan kolonialisasi di tempat itu.
Penyebab utamanya adalah Protugis menghalang-halangi perdagangan Belanda dengan Tidore. Protugis menembaki jung-jung (perahu) dari Banda yang akan membeli cengkih ke Tidore.
Tidore tidak terima dengan tindakan armada Portugis. Lalu melakukan perlawanan. Dalam perang tersebut, Portugis berhasil mengadu domba kerajaan Ternate dan Tidore.
Portugis mendapat dukungan dari Ternate dan Bacan. Akhirnya Portugis mendapat kemenangan.
Rakyat Maluku sadar bahwa Portugis hanya akan merusak perdamaian. Sultan Hairun berhasil menyatukan rakyat dan mengobarkan perlawanan pada tahun 1565.
Portugis terus terdesak oleh gempuran tentara kerajaan yang didukung rakyat. Portugis menawarkan perundingan kepada Sultan Hairun. Sultan Hairun adalah raja yang cinta damai sehingga menerima ajakan Portugis.
Pada tahun 1570, bertempat di Benteng Sao Paolo, terjadi perundingan antara Sultan dan Portugis.
Pada awal perundingan semua berjalan seperti sebuah pertemanan pada umumnya, yaitu membicarakan suatu hal penting. Pada saat itu, Sultan Hairun tidak menaruh curiga sedikit pun.
Ia merasa bahwa perdamaian jauh lebih baik. Namun, pada saat perundingan berlangsung tanpa disangka-sangka tiba-tiba Portugis menangkap Sultan Hairun dan pada saat itu juga membunuhnya.
Kelicikan dan kejahatan Portugis tersebut menimbulkan kemarahan rakyat Maluku. Sultan Baabullah (putera Sultan Hairun) dengan gagah melanjutkan perjuangan ayahandanya dengan memimpin perlawanan.
Pada saat bersamaan, Ternate dan Tidore bersatu melancarakan serangan terhadap Portugis. Akhirnya, pada tahun 1575 Portugis diusir dari Ternate.
Selanjutnya Portugis melarikan diri dan menetap di Ambon. Pada tahun 1605 Portugis berhasil diusir oleh VOC dari Ambon.
Portugis kemudian menyingkir ke Timor Timur/Timor Leste dan melakukan kolonialisasi di tempat itu.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1639), armada Aceh telah disiapkan untuk menyerang kedudukan Portugis di Malaka.
Saat itu, Aceh telah memiliki armada laut yang mampu mengangkut 800 prajurit. Pada saat itu wilayah Kerajaan Aceh telah sampai di Sumatera Timur dan Sumatera Barat.
Pada tahun 1629, Aceh mencoba menaklukkan Portugis, tetapi penyerangan yang dilakukan Aceh ini belum berhasil mendapat kemenangan. Meskipun demikian, Aceh masih tetap berdiri sebagai kerajaan yang merdeka.
Saat itu, Aceh telah memiliki armada laut yang mampu mengangkut 800 prajurit. Pada saat itu wilayah Kerajaan Aceh telah sampai di Sumatera Timur dan Sumatera Barat.
Pada tahun 1629, Aceh mencoba menaklukkan Portugis, tetapi penyerangan yang dilakukan Aceh ini belum berhasil mendapat kemenangan. Meskipun demikian, Aceh masih tetap berdiri sebagai kerajaan yang merdeka.
Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa di Sulawesi Selatan. Tokoh ini sangat ditakuti Belanda karena ketangguhannya melawan Belanda sehingga disebut sebagai "Ayam Jantan dari Timur"
Suatu ketika, Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dan Bone (Arung Palaka) berselisih paham. Hal ini dimanfaatkan VOC dengan mengadu domba kedua kerajaan tersebut.
VOC memberikan dukungan, sehingga Bone menang saat perang dengan Gowa tahun 1666. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667.
Perjanjian Bongaya adalah perjanjian antara Sultan Hasanuddin dan VOC. Isi perjanjian Bongaya sebagai berikut:
Suatu ketika, Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dan Bone (Arung Palaka) berselisih paham. Hal ini dimanfaatkan VOC dengan mengadu domba kedua kerajaan tersebut.
VOC memberikan dukungan, sehingga Bone menang saat perang dengan Gowa tahun 1666. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667.
Perjanjian Bongaya adalah perjanjian antara Sultan Hasanuddin dan VOC. Isi perjanjian Bongaya sebagai berikut:
- Belanda memperoleh monopoli dagang rempah-rempah di Makassar
- Belanda mendirikan benteng pertahanan di Makassar
- Makassar harus melepaskan daerah kekuasaanya berupa daerah di luas Makassar
- Aru Palaka diakui sebagai Raja Bone
Perjanjian Bongaya telah memangkas kekuasaan kerajaan Gowa sebagai kerajaan terkuat di Sulawesi. Tinggal kerajaan-kerajaan kecil yang sulit melakukan perlawanan terhadap VOC.
Mataram adalah kerajaan besar di Jawa Tengah. Keberadaan VOC di Batavia sangat membahayakan Mataram.
Pada awalnya, Mataram dengan Belanda dianggap menjalin hubungan baik. Belanda diizinkan mendirikan benteng gudang (loji) untuk kantor dagang di Jepara pada tahun 1615. Belanda juga memberikan dua meriam untuk Kerajaan Mataram.
Perselisihan antara Mataram dan Belanda terjadi karena nafsu monopoli Belanda. Pada tanggal 8 November 1618, Gubernur Jenderal VOC Jan Piterzoon Coen memerintahkan van der Marct menyerang Jepara.
Kerugian Mataram sangat besar. Peristiwa tersebut memperuncing perselisihan antara Mataram dan Belanda.
Raja Mataram Sultan Agung segera mempersiapkan penyerangan terhadap kedudukan VOC di Batavia. Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628.
Pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Baurekso, yang tidab di Batavia tanggal 22 Agustus 1628. Selanjutnya menyusul pasukan tumenggung Sura Agul-Agul dan kedua bersaudara yaitu Kiyai Dipati Mandurejo dan Upa Santa.
Pada awalnya, Mataram dengan Belanda dianggap menjalin hubungan baik. Belanda diizinkan mendirikan benteng gudang (loji) untuk kantor dagang di Jepara pada tahun 1615. Belanda juga memberikan dua meriam untuk Kerajaan Mataram.
Perselisihan antara Mataram dan Belanda terjadi karena nafsu monopoli Belanda. Pada tanggal 8 November 1618, Gubernur Jenderal VOC Jan Piterzoon Coen memerintahkan van der Marct menyerang Jepara.
Kerugian Mataram sangat besar. Peristiwa tersebut memperuncing perselisihan antara Mataram dan Belanda.
Raja Mataram Sultan Agung segera mempersiapkan penyerangan terhadap kedudukan VOC di Batavia. Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628.
Pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Baurekso, yang tidab di Batavia tanggal 22 Agustus 1628. Selanjutnya menyusul pasukan tumenggung Sura Agul-Agul dan kedua bersaudara yaitu Kiyai Dipati Mandurejo dan Upa Santa.
Peralihan kekuasaan Inggris menggantikan Belanda pada tahun 1811-1816. Peralihan kekuasaan tersebut menyadarkan rakyat bahwa Belanda bukanlah kekuatan yang paling hebat.
Ketika Belanda kembali berkuasa di Indonesia tahun 1817, rakyat Ambon mengadakan perlawanan dibawah pimpinan Thomas Matulesi (Pattimura).
Pattimura memimpin perlawanan di Saparua dan berhasil merebut benteng Belanda serta membunuh Residen van den Berg.
Dalam perlawanan tersebut, turut serta pula seorang pahlawan wanita bernama Christina Martha Tiahahu yang merupakan putri tunggal dari Paulus Tiahahu, teman dari Kapten Pattimura.
Perlawanan Pattimura dapat dikalahkan setelah bantuan Belanda dari Batavia datang. Pattimura bersama tiga pengikutnya ditangkap dan dihukum gantung.
Ketika Belanda kembali berkuasa di Indonesia tahun 1817, rakyat Ambon mengadakan perlawanan dibawah pimpinan Thomas Matulesi (Pattimura).
Pattimura memimpin perlawanan di Saparua dan berhasil merebut benteng Belanda serta membunuh Residen van den Berg.
Dalam perlawanan tersebut, turut serta pula seorang pahlawan wanita bernama Christina Martha Tiahahu yang merupakan putri tunggal dari Paulus Tiahahu, teman dari Kapten Pattimura.
Perlawanan Pattimura dapat dikalahkan setelah bantuan Belanda dari Batavia datang. Pattimura bersama tiga pengikutnya ditangkap dan dihukum gantung.
Minangkabau, Sumatera Barat merupakan salah satu pusat gerakan kebangkitan Islam di Indonesia.
Gerakan pemurnian ajaran Islam dibawah oleh para haji yang pulang dari Mekah. Tokohnya adalah Haji Miskin, Haji Sunanik, dan Haji Piobang.
Kelompok pembaharu Islam di Sumatera ini disebut sebagai kaum Padri. Mereka terpengaruh oleh para pembaharu Islam di Timur Tengah, dan menggerakkan semangat kembali pada kebangkitan Islam.
Ide pembaharuan kaum Padri dengan sasaran utama Belanda meletus tahun 1821. Kaum Padri dipimpin Tuanku Imam Bonjol (M Syahab), Tuanku nan Cerdik, Tuanku Tambusai, dan Tuanku nan Alahan.
Perlawanan kaum Padri berhasil membuat Belanda terpojok. Sementara itu, Belanda menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Belanda sadar apabila pertempuran dilanjutkan, Belanda akan kalah. Belanda pun mengajak kaum Padri berdamai, yang diwujudkan di Bonjol tanggal 15 November 1825. Selanjutnya, Belanda berkonsentrasi ke Perang Diponegoro.
Belanda berhasil memadamkan perlawanan Diponegoro. Setelah itu, Belanda kembali melakukan penyerangan terhadap kedudukan Padri.
Kaum adat yang semula bermusuhan dengan kaum Padri akhirnya mendukung perjuangan Padri. Bantuan dari Aceh juga datang untuk mendukung perjuangan Padri. Belanda benar-benar menghadapi musuh yang tangguh.
Belanda menerapkan sistem pertahanan Benteng Stelsel. Bentan Fort de Kock di Bukit tinggi dan Benteng Fork van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanannya.
Dengan siasat tesebut, Belanda akhirnya menang, yang ditandai dengan jatuhnya benteng pertahanan terakhir Padri di Bonjol tahun 1837.
Tuanku Imam Bonjol ditangkap, kemudian diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir di Menado hingga wafat tahun 1864.
Berakhirnya perang Padri membuat kekuasaan Belanda di Minangkabau semakin besar. Keadaan ini kemudian mendukung usaha Belanda untuk menguasai Sumatera yang lain.
Gerakan pemurnian ajaran Islam dibawah oleh para haji yang pulang dari Mekah. Tokohnya adalah Haji Miskin, Haji Sunanik, dan Haji Piobang.
Kelompok pembaharu Islam di Sumatera ini disebut sebagai kaum Padri. Mereka terpengaruh oleh para pembaharu Islam di Timur Tengah, dan menggerakkan semangat kembali pada kebangkitan Islam.
Ide pembaharuan kaum Padri dengan sasaran utama Belanda meletus tahun 1821. Kaum Padri dipimpin Tuanku Imam Bonjol (M Syahab), Tuanku nan Cerdik, Tuanku Tambusai, dan Tuanku nan Alahan.
Perlawanan kaum Padri berhasil membuat Belanda terpojok. Sementara itu, Belanda menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Belanda sadar apabila pertempuran dilanjutkan, Belanda akan kalah. Belanda pun mengajak kaum Padri berdamai, yang diwujudkan di Bonjol tanggal 15 November 1825. Selanjutnya, Belanda berkonsentrasi ke Perang Diponegoro.
Belanda berhasil memadamkan perlawanan Diponegoro. Setelah itu, Belanda kembali melakukan penyerangan terhadap kedudukan Padri.
Kaum adat yang semula bermusuhan dengan kaum Padri akhirnya mendukung perjuangan Padri. Bantuan dari Aceh juga datang untuk mendukung perjuangan Padri. Belanda benar-benar menghadapi musuh yang tangguh.
Belanda menerapkan sistem pertahanan Benteng Stelsel. Bentan Fort de Kock di Bukit tinggi dan Benteng Fork van der Cappelen merupakan dua benteng pertahanannya.
Dengan siasat tesebut, Belanda akhirnya menang, yang ditandai dengan jatuhnya benteng pertahanan terakhir Padri di Bonjol tahun 1837.
Tuanku Imam Bonjol ditangkap, kemudian diasingkan ke Priangan, kemudian ke Ambon, dan terakhir di Menado hingga wafat tahun 1864.
Berakhirnya perang Padri membuat kekuasaan Belanda di Minangkabau semakin besar. Keadaan ini kemudian mendukung usaha Belanda untuk menguasai Sumatera yang lain.
Perang Diponegoro (1825-1830) merupakan salah satu perang besar yang dihadapi Belanda. Perlawanan Pangeran Diponegoro tidak lepas dari kegelisahan dan penderitaan rakyat akibat penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda.
Campur tangan pemerintah Hindia Belanda dalam urusan Keraton Yogyakarta merupakan salah satu penyebab kegelisahan. Pajak-pajak yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda dan kebijakan ekonomi lainnya menjadi sumber penderitaan rakyat, yang ikut juga melatarbelakangi Perang Diponegoro.
Pada tahun 1822 Hamengkubuwono IV wafat. Di dalam keraton muncul mahkota baru berumur 3 (tiga) tahun. Keadaan ini menjadi kesempatan bagi Belanda untuk campur tangan dalam urusan kerajaan.
Beberapa tindakan belanda yang dianggap melecehkan harga diri dan nilai-nilai budaya masyarakat menjadi penyebab kebencian rakyat kepada Belanda.
Sebagai contoh, saat membangun jalan baru pada bulan Mei 1825, Belanda dan Patih Danurejo memasang patok-patok pada tanah leluhur Diponegoro.
Terjadi perselisihan saat pengikut Diponegoro mencabuti patok-patok tersbut. Belanda segera mengutus serdadu untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Perang tidak dapat dihindarkan.
Pada tanggal 20 Juli 1825, Tegalrejo yang menjadi basis pengikut Diponegoro direbut dan dibakar Belanda.
Diponegoro meninggalkan kota dan menyusun strategi di luar Kota Yogyakarta. Perang Jawa dikumandangkan (1825-1830) untuk mengusir Belanda. Perlawasan tersebut menular sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Belanda berusaha membujuk para pejuang dengan memulangkan Hamengkubuwono II dari pengasingannya di Ambon. Namun, langkah ini gagal memadamkan perlawanan.
Selanjutnya, Belanda menerapkan siasat Benteng Stelsel. Dengan sistem ini, Belanda mampu memecah belah jumlah pasukan musuh.
Belanda berhasil menangkap Kyai Maja dan Pangeran Mangkubumi. Belanda kemudian berhasil meyakinkan panglima Sentot Parawirodirjo untuk membuat perjanjian perdamaian.
Pada bulan Maret 1830, Diponegoro bersedia mengadakan perundingan dengan Belanda di Magelang, Jawa Tengah.
Perundingan tersebut hanya sebagai jalan tipu muslihat karena ternyata Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke Makassar hingga wafat tahun 1855. Setelah berakhirnya Perang Jawa (Diponegoro), tidak ada lagi perlawanan yang besar di Jawa.
Campur tangan pemerintah Hindia Belanda dalam urusan Keraton Yogyakarta merupakan salah satu penyebab kegelisahan. Pajak-pajak yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda dan kebijakan ekonomi lainnya menjadi sumber penderitaan rakyat, yang ikut juga melatarbelakangi Perang Diponegoro.
Pada tahun 1822 Hamengkubuwono IV wafat. Di dalam keraton muncul mahkota baru berumur 3 (tiga) tahun. Keadaan ini menjadi kesempatan bagi Belanda untuk campur tangan dalam urusan kerajaan.
Beberapa tindakan belanda yang dianggap melecehkan harga diri dan nilai-nilai budaya masyarakat menjadi penyebab kebencian rakyat kepada Belanda.
Sebagai contoh, saat membangun jalan baru pada bulan Mei 1825, Belanda dan Patih Danurejo memasang patok-patok pada tanah leluhur Diponegoro.
Terjadi perselisihan saat pengikut Diponegoro mencabuti patok-patok tersbut. Belanda segera mengutus serdadu untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Perang tidak dapat dihindarkan.
Pada tanggal 20 Juli 1825, Tegalrejo yang menjadi basis pengikut Diponegoro direbut dan dibakar Belanda.
Diponegoro meninggalkan kota dan menyusun strategi di luar Kota Yogyakarta. Perang Jawa dikumandangkan (1825-1830) untuk mengusir Belanda. Perlawasan tersebut menular sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Belanda berusaha membujuk para pejuang dengan memulangkan Hamengkubuwono II dari pengasingannya di Ambon. Namun, langkah ini gagal memadamkan perlawanan.
Selanjutnya, Belanda menerapkan siasat Benteng Stelsel. Dengan sistem ini, Belanda mampu memecah belah jumlah pasukan musuh.
Belanda berhasil menangkap Kyai Maja dan Pangeran Mangkubumi. Belanda kemudian berhasil meyakinkan panglima Sentot Parawirodirjo untuk membuat perjanjian perdamaian.
Pada bulan Maret 1830, Diponegoro bersedia mengadakan perundingan dengan Belanda di Magelang, Jawa Tengah.
Perundingan tersebut hanya sebagai jalan tipu muslihat karena ternyata Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian ke Makassar hingga wafat tahun 1855. Setelah berakhirnya Perang Jawa (Diponegoro), tidak ada lagi perlawanan yang besar di Jawa.
Traktat London tahun 1871 menyebut Belanda menyerahkan Sri Lanka kepada Inggris, dan Belanda mendapat hak atas Aceh.
Berdasarkan traktat tersebut, Belanda mempunyai alasan untuk menyerang istana Aceh. Saat itu, Aceh masih merupakan negara merdeka.
Belanda juga membakar Masjid Baiturrahman yang menjadi benteng pertahanan Aceh 5 April 1873.
Semangat Jihad (perang membela agama Islam) menggerakkan perlawanan rakyat Aceh. Jenderal Kohler terbunuh saat pertempuran di depan Masjid Baiturraman, Banda Aceh.
Kohler meninggal dekat dengan pohon yang sekarang diberi nama Pohon Kohler. Siasat konsentrasi stelsel dengan sistem bertahan dalam benteng besar oleh Belanda tidak berhasil. Belanda semakin terdesak, korban semakin besar, dan keuangan terus terkuras.
Belanda sama sekali tidak mampu menghadapi secara fisik perlawanan rakat Aceh. Menyadari hal tersebut, Belanda mengutur Dr. Dsouck Hurgronje yang memakai nama samaran Abdul Gafar.
Sebagai seorang ahli bahasa, sejarah, dan sosial Islam, ia dimintai masukan atau rekomendasi tentang cara-cara mengalahkan rakyat Aceh.
Setelah lama belajar di Arab, Snouck Hudronje memberikan saran-saran kepada Belanda mengenai caranya. Aceh tidak mungkin dilawan dengan kekerasan, sebab karakter orang Aceh tidak akan pernah menyerah. Jiwa jihad orang Aceh sangat tinggi.
Taktik yang paling mujarab adalah dengan mengadu domba antara golongan Uleebalang (bangsawan) dan kaum ulama.
Belanda menjanjikan kedudukan pada Uleebalang yang bersedia damai. Taktik ini berhasil, banyak Uleebalang yang tertarik pada tawaran Belanda.
Belanda memberikan tawaran kepada Uleebalang apabila kaum ulama dapat dikalahkan. Sejak tahun 1898, kedudukan Aceh semakin terdesak. Banyak tokoh yang gugur.
Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada 1899. Sultan Aceh Mohammad Daudsyah ditawan pada tahun 1903 dan diasingkan hingga meninggal di Batavia.
Panglima Polem Mohammad Daud juga menyerah pada tahun 1903. Cut Nyak Dien, tokoh pemimpin perempuan, ditangkap tahun 1906 kemudian diasingkan ke Sumedang.
Pahlawan perempuan Cut Mutia gugur pada tahun 1910. Perlawanan Aceh pun terus menyusut hingga tahun 1917, Belanda masih melakukan pengejaran terhadap sisa-sisa perlawanan Aceh.
Belanda mengumumkan berakhirnya Perang Aceh pada tahun 1904. Namun demikian, perlawanan sporadis rakyat Aceh masih berlangsung hingga tahun 1930an.
Berdasarkan traktat tersebut, Belanda mempunyai alasan untuk menyerang istana Aceh. Saat itu, Aceh masih merupakan negara merdeka.
Belanda juga membakar Masjid Baiturrahman yang menjadi benteng pertahanan Aceh 5 April 1873.
Semangat Jihad (perang membela agama Islam) menggerakkan perlawanan rakyat Aceh. Jenderal Kohler terbunuh saat pertempuran di depan Masjid Baiturraman, Banda Aceh.
Kohler meninggal dekat dengan pohon yang sekarang diberi nama Pohon Kohler. Siasat konsentrasi stelsel dengan sistem bertahan dalam benteng besar oleh Belanda tidak berhasil. Belanda semakin terdesak, korban semakin besar, dan keuangan terus terkuras.
Belanda sama sekali tidak mampu menghadapi secara fisik perlawanan rakat Aceh. Menyadari hal tersebut, Belanda mengutur Dr. Dsouck Hurgronje yang memakai nama samaran Abdul Gafar.
Sebagai seorang ahli bahasa, sejarah, dan sosial Islam, ia dimintai masukan atau rekomendasi tentang cara-cara mengalahkan rakyat Aceh.
Setelah lama belajar di Arab, Snouck Hudronje memberikan saran-saran kepada Belanda mengenai caranya. Aceh tidak mungkin dilawan dengan kekerasan, sebab karakter orang Aceh tidak akan pernah menyerah. Jiwa jihad orang Aceh sangat tinggi.
Taktik yang paling mujarab adalah dengan mengadu domba antara golongan Uleebalang (bangsawan) dan kaum ulama.
Belanda menjanjikan kedudukan pada Uleebalang yang bersedia damai. Taktik ini berhasil, banyak Uleebalang yang tertarik pada tawaran Belanda.
Belanda memberikan tawaran kepada Uleebalang apabila kaum ulama dapat dikalahkan. Sejak tahun 1898, kedudukan Aceh semakin terdesak. Banyak tokoh yang gugur.
Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada 1899. Sultan Aceh Mohammad Daudsyah ditawan pada tahun 1903 dan diasingkan hingga meninggal di Batavia.
Panglima Polem Mohammad Daud juga menyerah pada tahun 1903. Cut Nyak Dien, tokoh pemimpin perempuan, ditangkap tahun 1906 kemudian diasingkan ke Sumedang.
Pahlawan perempuan Cut Mutia gugur pada tahun 1910. Perlawanan Aceh pun terus menyusut hingga tahun 1917, Belanda masih melakukan pengejaran terhadap sisa-sisa perlawanan Aceh.
Belanda mengumumkan berakhirnya Perang Aceh pada tahun 1904. Namun demikian, perlawanan sporadis rakyat Aceh masih berlangsung hingga tahun 1930an.
Perlawanan terhadap Belanda di Sumatera Utara dilakukan oleh Sisingamangaraja XII.
Perlawanan ini yang dinamakan juga Perang Batak, berlangsung selama 29 tahun. Pertempuran diawali dari Bahal Batu, yang menjadi pusat pertahanan Belanda tahun 1877.
Untuk menghadapi Perang Batak, Belanda menarik pasukan dari Aceh. Pasukan Sisingamangaraja dapat dikalahkan setelah Kapten Christoffel berhasil mengepung benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak.
Kedua putera beliau Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur, sehingga seluruh Tapanuli dapat dikuasai Belanda.
Perlawanan ini yang dinamakan juga Perang Batak, berlangsung selama 29 tahun. Pertempuran diawali dari Bahal Batu, yang menjadi pusat pertahanan Belanda tahun 1877.
Untuk menghadapi Perang Batak, Belanda menarik pasukan dari Aceh. Pasukan Sisingamangaraja dapat dikalahkan setelah Kapten Christoffel berhasil mengepung benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak.
Kedua putera beliau Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur, sehingga seluruh Tapanuli dapat dikuasai Belanda.
Perang Banjar berawal ketika Belanda campur tangan dalam urusan pergantian raja di Kerajaan Banjarmasin.
Belanda memberi dukungan kepada Pangeran Tamjidillah yang tidak disukai rakyat.
Perlawanan dilakukan oleh Prabu Anom dan Pangeran Hidayat. Pada tahun 1859, Pangeran Antasari memimpin perlawanan setelah Prabu Anom ditangkap Belanda.
Pasukan Pangeran Antasari dapat didesak. Pada tahun 1862, Pangeran Hidayat menyerah, dan berakhirlah perlawanan Banjar di Pulau Kalimantan.
Perlawanan benar-benar dapat dipadamkan pada tahun 1905.
Belanda memberi dukungan kepada Pangeran Tamjidillah yang tidak disukai rakyat.
Perlawanan dilakukan oleh Prabu Anom dan Pangeran Hidayat. Pada tahun 1859, Pangeran Antasari memimpin perlawanan setelah Prabu Anom ditangkap Belanda.
Pasukan Pangeran Antasari dapat didesak. Pada tahun 1862, Pangeran Hidayat menyerah, dan berakhirlah perlawanan Banjar di Pulau Kalimantan.
Perlawanan benar-benar dapat dipadamkan pada tahun 1905.
Perang Jagaraga berawal ketika Belanda dan Kerajaan di Bali bersengketa tentang hak tawan karang.
Hak tawan karang menyatakan bahwa setiap kapal yang kandas di perairan Bali menjadi hak penguasa di daerah tersebut.
Pemerintah Belanda memprotes raja Buleleng yang menyita 2 kapal milik Belanda. Raja Buleleng tidak menerima tuntutan Belanda untuk mengembalikan kedua kapalnya.
Persengketaan ini menyebabkan Belanda melakukan serangan terhadap Kerajaan Buleleng pada tahun 1846.
Belanda berhasil menguasai kerajaan Buleleng, sementara Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga dibantu oleh Kerajaan Karangasem.
Setelah berhasil merebut Benteng Jagaraga, Belanda melanjutkan ekspedisi militer tahun 1849. Dua kerajaan Bali, yaitu Gianyar dan Klungkung menjadi sasaran Belanda pada tahun 1906.
Seluruh kerajaan di Bali pun jatuh ke pihak Belanda setelah rakyat melakukan perang habis-habisan sampai mati, yang dikenal dengan perang puputan jagaraga
Hak tawan karang menyatakan bahwa setiap kapal yang kandas di perairan Bali menjadi hak penguasa di daerah tersebut.
Pemerintah Belanda memprotes raja Buleleng yang menyita 2 kapal milik Belanda. Raja Buleleng tidak menerima tuntutan Belanda untuk mengembalikan kedua kapalnya.
Persengketaan ini menyebabkan Belanda melakukan serangan terhadap Kerajaan Buleleng pada tahun 1846.
Belanda berhasil menguasai kerajaan Buleleng, sementara Raja Buleleng menyingkir ke Jagaraga dibantu oleh Kerajaan Karangasem.
Setelah berhasil merebut Benteng Jagaraga, Belanda melanjutkan ekspedisi militer tahun 1849. Dua kerajaan Bali, yaitu Gianyar dan Klungkung menjadi sasaran Belanda pada tahun 1906.
Seluruh kerajaan di Bali pun jatuh ke pihak Belanda setelah rakyat melakukan perang habis-habisan sampai mati, yang dikenal dengan perang puputan jagaraga
sumber https://geograpik.blogspot.com/2020/03/perubahan-masyarakat-indonesia-pada.html
Komentar
Posting Komentar