Masa Pra Aksara Indonesia

 Apa itu Masa Praaksara?

Masa praaksara adalah masa sebelum manusia mengenal tulisan. Masa ini disebut juga masa prasejarah.

Masa praaksara disebut juga masa nirleka ('nir' artinya tidak ada, dan 'leka' artinya tulisan), yaitu masa tidak ada tulisan.

Masa praaksara dimulai sejak manusia, itulah titik dimulainya masa praaksara. Adapun berakhirnya masa praaksara adalah sejak manusia mengenal tulisan.

Berakhirnya masa praaksara tidak sama bagi setiap bangsa. Misalnya Bangsa Mesir dan Mesopotamia telah mengenal tulisan kira-kira 3.000 tahun sebelum Masehi.

Adapun masyarakat Indonesia mengenal tulisan sekitar abad ke 5 Masehi. Hal ini diketahui dari Yupa (batu bertulis peninggalan kerajaan Kutai) yang terdapat di Muara Kaman, Kalimantan Timur.




Zaman ini merupakan zaman tertua yang berlangsung kira-kira sejak 2.500 juta tahun yang lalu. Pada waktu itu kulit bumi masih sangat panas, sehingga belum terdapat kehidupan diatasnya.


Zaman kehidupan tua berlangsung kira-kira sejak 340 juta tahun yang lalu.

Zaman ini sudah ditandai dengan munculnya tanda-tanda kehidupan, antara lain munculnya binatang-binatang kecil yang tidak bertulang punggung, berbagai jenis ikan, amfibi dan reptil.


Zaman kehidupan pertengahan berlangsung sejak 140 juta tahun lalu. Pada zaman ini kehidupan di bumi makin berkembang.

Binatang-binatang mencapai bentuk tubuh yang besar sekali. Kita mengenalnya sebagai Dinosaurus.

Disamping itu, juga mulai muncul berbagai jenis burung. Zaman mesozoikum disebut pula dengan zaman reptil karena pada zaman ini yang paling banyak adalah binatang jenis reptil.



Pada zaman ini jenis-jenis reptil mulai puncah dan bumi umumnya dikuasai hewan-hewan besar yang menyusui.

Contohnya adalah jenis gajah purba yang pernah hidup di Amerika Utara dan Eropa Utara.


Zaman ini berlangsung sejak kira-kira 3 juta tahun yang lalu. Zaman ini sangat penting bagi kita, karena merupakan awal kehidupan manusia pertama kali di muka bumi.




Paleolithikum disebut zaman batu tua. Hasil kebudayaanya banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong Jawa Timur.

Untuk membedakan temuan benda-benda praaksara di kedua tempat tersebut, para arkeolog sepakat menyebutnya sebagai kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.

Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kurang lebih 600.000 tahun silam. Kehidupan manusia masih sangat sederhana, hidup berpindah-pindah (nomaden).

Mereka memperoleh makanan dengan cara berburu dan mengumpulkan buah-buahan, umbi-umbian, serta menangkap ikan.

Alat-alat yang digunakan pada zaman ini terbuat dari batu yang masih kasar dan berlum diasah, seperti kapak perimbas atau alat serpih yang digunakan untuk menguliti hewan buruan, mengiris daging, atau memotong umbi-umbian.


Mesolithikum artinya zaman batu tengah. Hasil kebudayaan batu tengah lebih maju apabila dibandingkan dengan hasil kebudayaan Paleolithikum.

Pada zaman ini manusia sudah ada yang hidup menetap sehingga kebudayaan yang menjadi ciri zaman ini adalah kebudayaan Kjokkenmoddinger dan kebudayaan abris sous Roche.

Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark, yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah.

Jadi, Kjokkenmoddinger adalah timbunan kulit kerang dan siput yang menggunung dan sudah menjadi fosil.

Kjokkenmoddinger ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatera, yaitu antara Langsa dan Medan.

Dari timbunan itu, ditemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan kapak genggam Paleolithikum.

Kapak genggam yang ditemukan tersebut dinamakan Pebble atau kapak Sumatera sesuai dengan lokasi penemuannya. Bentuknya sudah lebih baik dan mulai halus.

Abris Sous Roche maksudnya adalah gua-gua yang dijadikan tempat tinggal manusia purba yang berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas.

Alat-alat yang ditemukan pada gua tersebut antara lain alat-alat dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan, serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa.

Kebudayaan abris sous roche ini banyak ditemukan misalnya di Besuki, Bojonegoro, juga di daerah Sulawesi Selatan.


Neolithikum berarti zaman batu baru. Pada zaman ini telah terjadi perubahan mendasar pada kehidupan masyarakat praaksara.

Mereka mulai hidup menetap dan mampu menghasilkan bahan makanan sendiri melalui kegiatan bercocok tanam.

Hasil kebudayaan yang terkenal dari zaman ini adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak persegi bentuknya persegi panjang dan ada pula yang berbentuk trapesium.


Megalithikum artinya zaman batu besar. Pada zaman ini terdapat bangunan dari batu yang berukuran besar.

Tradisi pendirian batu berukuran besar erat kaitannya dengan kepercayaan yang berkembang pada saat itu, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Jenis-jenis bangunan megalitik antara lain, menhir, dolmen, kubur peti, waruga, sarkofagus, punden berundak, dan patung.


Pada zaman ini, manusia tidak hanya menggunakan bahan-bahan dari batu untuk membuat alat-alat kehidupannya, tetapi juga mempergunakan bahan dari logam, yaitu perunggu dan besi.

Menurut perkembangannya, zaman logam dibedakan menjadi tiga, yaitu zaman perunggu, zaman tembaga, dan zaman besi.

Benda-benda yang dihasilkan pada zaman ini antara lain adalah kapak corong (kapak yang menyerupai corong), nekara, moko, bejana, perunggu, manik-manik, cendrasa (kapak sepatu).




Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana diperkirakan semasa dengan zaman paleolithikum.

Manusia yang hidup pada masa ini masih rendah tingkat peradabannya.

Mereka hidup mengembara, pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain sebagai pemburu binatang dan penangkap ikan.


Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut diperkirakan semasa dengan zaman mesolithikum.

Kehidupan manusia pada masa ini sudah mengalami perkembangan dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Manusia mulai hidup menetap walaupun hanya untuk sementara waktu dan mulai mengenal cara bercocok tanam sederhana.

Selain itu, tampak kegiatan-kegiatan manusia yang menghasilkan sesuatu yang belum dicapai pada masa sebelumnya seperti lukisan di dinding gua atau dinding karang.


Masa bercocok tanam diperkirakan semasa dengan zaman Neolithikum. Pada masa ini peradaban manusia sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi.

Manusia sudah memiliki kemampuan mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bercocok tanam dan mengembangbiakan binatang ternak.

Manusia sudah hidup menetap dan tidak lagi berpindah-pindah seperti halnya pada masa berburu dan mengumpulkan makanan.

Mereka hidup menetap karena persediaan makanan sudah tercukupi. 

Masa perundagian merupakan akhir masa praaksara di Indonesia.

Kata perundagian berasal dari bahasa Bali: undagi, yang artinya adalah seseorang atau sekelompok orang atau segolongan orang yang mempunyai kepandaian atau keterampilan jenis usaha tertentu, misalnya pembuatan gerabah, pembuatan perhiasan, atau pembuatan sampan.

Masa perundagian diperkirakan sama dengan zaman perunggu. Pada masa ini, peradaban manusia sudah maju tingkatannya.

Teknologi pembuatan alat-alat atau perkakas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Masyarakat pada masa perundagian telah mampu mengatur kehidupannya. Kegiatan kehidupan yang mereka lakukan tidak lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Kegiatan pertanian di ladang dan sawah masih tetap dilakukan. Pengaturan ini dilakukan agar kegiatan pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada hujan.

Hasil pertanian disimpan untuk masa kering dan mungkin juga untuk diperdagangkan ke daerah lain.

Kegiatan peternakan juga turut berkembang, hewan ternak yang dipelihara lebih beragam dari masa sebelumnya. Masyarakat telah mampu beternak kuda dan berbagai unggas.

Munculnya golongan masyarakat yang memiliki keterampilan tertentu menyebabkan teknologi berkembang pesat.

Seiring kemajuan yang dicapai, terjadi peningkatan kegiatan perdagangan. Pada masa ini perdagangan masih bersifat barter, namun telah menjangkau tempat-tempat yang jauh, yakni antarpulau.

Barang-barang yang dipertukarkan semakin beragam, seperti alat pertanian, perlengkapan upacara, dan hasil kerajinan.

Kegiatan perdagangan antarpulau pada masa perundagian dibuktikan dengan ditemukannya nekara di Selayar dan kepulauan Kei yang dihiasi gambar-gambar binatang seperti gajah, merak, dan harimau.

Binatang-binatang ini tidak ada di wilayah Indonesia bagian timur. Hal ini menunjukkan bahwa nekara tersebut berasal dari daerah Indonesia bagian barat.


Masyarakat pada masa perundagian hidup menetapdi perkampungan yang lebih besar  dan lebih teratur.

Perkampungan ini terbentuk dari bersatunya beberapa kampung hingga jumlah kelompok penduduk yang bertambah banyak.

Masyarakat tersusun dalam kelompok yang beragam. Ada kelompok petani, ada pedagang, ada pula kelompok undagi (perajin/tukang).

Pada masa perundagian, manusia sudah mahir membuat berbagai peralatan atau perkakas. Alat-alat yang dihasilkan terbuat dari logam digunakan untuk bertani, bertukang, peralatan rumah tangga, perhiasan dan sebagai alat perlengkapan upacara dan pemujaan.



Masyarakat praaksara sudah memiliki kepercayaan terhadap adanya kekuatan ghaib.

Mereka mempercayai bahwa pohon rimbun yang tinggi besar, hutan lebat, gua yang gelap, laut atau tempat lainnya dipandang keramat karena ditempati oleh roh halus atau mahluk ghaib.

Mereka meyakini bahwa kejadian-kejadian alam seperti hujan, petir, banjir, gunung meletus, atau gempa bumi adalah akibat perbuatan roh halus atau makhluk gaib.

Untuk menghindari malapetaka maka roh halus atau makhluk gaib harus selalu dipuja. Kepercayaan roh halus ini disebut dengan animisme.

Masyarakat praaksara hidup secara berkelompok, mereka bergotong-royong untuk kepentingan bersama, contohnya membangun rumah yang dilakukan secara bersama-sama.

Budaya gotong-royong juga dapat dilihat dari peninggalan mereka berupa bangunan-bangunan besar yang dapat dipastikan dibangun secara gotong-royong.

Dalam kehidupan berkelompok, masyarakat praaksara telah mengembangkan nlai musyawarah.

Hal ini dapat ditunjukkan dengan dipilihnya pemimpin yang dianggap paling tua (sesepuh) yang mengatur masyarakat dan memberikan keputusan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bersama.

Nilain keadilan sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat praaksara, yaitu adanya pembagian tugas sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.

Tugas antara kaum laki-laki berbeda dengan kaum perempuan. Hal ini mencerminkan sikap yang adil karena setiap orang akan memperoleh hak dan kewajiban sesuai kemampuannya.

Salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat praaksara untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah bercocok tanam.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya alat khas pertanian yang berupa beliung persegi dan alat lainnya.

Masyarakat praaksara telah mengenal ilmu astronomi. Ilmu ini sangat membantu saat mereka berlayar dari pulau ke pulau dengan memakai perahu yang sangat sederhana.

Perahu-perahu cadik merupakan bentuk yang paling umum dikenal pada waktu itu. Perahu bercadik adalah perahu yang kanan-kirinya dipasang alat dari bambu dan kayu agar perahunya tidak mudah oleng.


Paul dan Fritz Sarasin mengemukakan bahwa penduduk asli Indonesia adalah suatu ras yang berkulit gelap dan bertubuh kecil.

Ras ini pada awalnya mendiami Asia Bagian Tenggara yang saat itu masih bersatu sebagai daratan pada zaman es atau periode glasial.

Namun, setelah periode es berakhir dan es mencair, maka dataran tersebut kemudian terpisah oleh lautan yaitu Laut China Selatan dan Laut Jawa.

Akibatnya, daratan yang tadinya bersatu kemudian terpisah menjadi daratan utama Asia dan Kepulauan Indonesia.

Penduduk asli tinggal di daerah pedalaman dan penduduk pendatang tinggal di daerah pesisir. Penduduk asli inilah yang disebut sebagai suku Vedda oleh Sarasin.






Sumber https://geograpik.blogspot.com/2020/03/aktivitas-manusia-dalam-memenuhi.html

Komentar